Rehabilitasi Lahan Tidur

Degradasi lahan terjadi karena lahan sering terbuka oleh pekerjaan pengolahan tanah dan penyiangan bersih sehingga tanah mudah tererosi. Pengusahaan lahan tandus menjadi lahan pertanian tidak ekonomis karena produktivitasnya yang sudah demikian rendah. Sampai saat ini usaha untuk memulihkan produktivitas lahan yang telah merosot belum banyak dilakukan padahal arealnya terus meningkat.

Dengan makin bertambahnya penduduk di daerah DAS perlu dilakukan usaha rehabilitasi lahan yaitu pemulihan produktivitas lahan tandus agar dapat berproduksi kembali. Lahan kritis terjadi akibat erosi oleh air hujan. Erosi sendiri diakibatkan oleh faktor-faktor iklim, topografi, vegetasi, kondisi tanah dan ulah manusia. Jawa Barat memiliki curah hujan tinggi, lahan berlereng. Ketika kayu-kayu tumbuh diatas lahan ditebangi maka curah hujan yang tinggi memukul langsung permukaan tanah yang gundul. Butiran tanah terlepas dari agregatnya dan dibawa hanyut oleh aliran permukaan ( run off ) kelereng bawah sampai akhirnya diindapkan di muara-muara sungai. Tanah yang terhanyut mengandung zat-zat hara penting untuk tanaman.

Dengan demikian yang tertinggal adalah lapisan bawah tanah ( sub soil ) atau bahan induk yang tidak subur dan bukan media tumbuh yang baik untuk pertanian. Para ahli mengatakan bahwa untuk pembentukan lapisan olah (top oil ) setebal 2,5 cm diperlukan waktu 30 –300 tahun. Lahan kritis didifinisikan sebagai lahan yang mengalami proses kerusakan fisik, kimia dan biologi karena tidak sesuai penggunaan dan kemampuannya, yang akhirnya membahayakan fungsi hidrologis, orologis, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi dan daerah lingkungan pengaruhnya. Dalam kurun waktu 7 tahun sawah telah berkurang 337.058 ha

atau sekitar 9 % dan lahan hutan berkurang 124.738 ha atau tinggal 19 % lagi. Berdasarkan pemantauan dari citra Landsat tegakan kayu di Jawa barat sebenarnya tinggal 9 % lagi. Lahan kritis telah merupakan bencana nasional..

Degradasi tanah yang terus menerus mengakibatkan terjadinya tanah-tanah kritis bahkan teklah berkembang menjadi tanah mati seperti banyak dijumpai di daerah Maja. Kabupaten Majalengka. Tanah-tanah mati sulit untuk dipulihkan lagi karena top soil maupun sub oilnya sudah terkikis, yang muncul dipermukaan tinggal lapisan induk (parent material).

Untuk rehabilitasi lahan kritis pemerintah pusat pada tahun 2003 telah mencanangkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan ( GNRHL ).

Pemerintah Propinsi Jawa Barat juga telah menggulirkan program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis ( GRLK) dimana seluruh stakeholder Jawa Barat harus berpartisipasi aktif untuk menyelamatkan sumber daya alam Jawa Barat yang tidak ternilai harganya..

Rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat akan berdampak positif pada aspek hidrologi, orologi, ekologi, ekonomi dan sosial politik. Rahabilitasi lahan kritis memerlukan perencanaan yang matang dari aspek teknologi spesifik lokasi yang akan digunakan, jenis tanaman pilihan, pola budidaya yang akan digunakan, pola pemberdayaan masyarakat setempat, perangkat hukum yang diperlukan untuk membuat gerakan lebih terarah serta mencegah meluasnya lahan kritis baru.

Jawa Barat ingin memulihkan kondisi ekonominya melalui enam core-business dengan agribisnes sebagai lokomotif penarik dari lima core-business lainnya. Agribisness telah dijadikan harapan untuk pemulihan ekonomi Jawa barat.

Pengembangan agribisness sangat bergantung kepada kesuburan sumberdaya hutan, pasokan air yang cukup sepanjang musim, serta pasar domestik yang terbuka untuk produk-produk dalam negeri. Namun pada kenyataannya pasar domestik dipenuhi produksi agribisnis luar, karena mutu lebih baik dan harga cukup bersaing.

Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul kepermukaan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Sumberdaya tanah dan air yang menjadi tumpuan harapan untuk pemulihan ekonomi melalui agribisnis ternyata telah terdegradasi.

Bersamaan dengan itu pasokan energi listrik yang berasal dari tenaga air untuk menggerakkan industri menjadi terancam ketika pasokan air pada musim kemarau berkurang.

Kajian ini dimaksudkan untuk menganalisa faktor-faktor teknis, sosial-ekonomi, sosial-budaya dankebijakan mana yang mampu menghentikan perluasan lahan kritis secara tidak terkendali.

Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat, baik dari aspek teknologi, spesifik lokasi, maupun dari aspek sosial ekonomi, melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat ( beneficiary) yang didasarka pada budaya dan kearifan lokal, dalam rangka pelaksanaan program Rehabilitasi Lahan Kritis di Jawa Barat.

Hasil kajian dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi untuk Pemerintah Propinsi Jawa Barat dalam rangka menyusun rancangan kebijakan Pemanfaatan lahan kritis dan lahan tidur melalui pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan budaya dan kearifan lokal.

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Lahan kritis merupakan suatu lahan yang kondisi tanahnya telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia atau biologi yang akhirnya membahayakan fungsi hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi di sekitar daerah pengaruhnya (Ade Iwan Setiawan, 1996 : 19).

Rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya (Wahono, 2002 : 3). Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999, Rehabilitasi Hutan dan Lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannya dalam mendukung sistem keidupan tetap terjaga.

Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan diselengaarakan melalui kegiatan Reboisasi , Penghijauan , Pemeliharaan , Pengayan tanaman, atau Penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis pada lahan kritis da tidak produktif. Menurut Supriyanto (1996 : 1) Kegiatan reboisasi dan penghijauan pada umunya dilakukan pada tanah kritis dan areal bekas pembalakan. Kedua kegiatan tersebut memerlukan bibit dalam jumlah besar dan berkualitas baik.

Cara-cara rehabilitasi lahan Tanaman penutup tanah

Pemilihan tanaMan penutup untuk rehabilitasi lahan didasarkan pada fungsinya, yakni:

– Menghasilkan bahan hijauan berjumlah banyak dan becrkadar N tinggi (2-6%), sehingga dalam waktu pendek dapat terjadi dekomposi dan dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah

– Meningkatkan aktivitas biologi tanah yang langsung memperbaiki struktur dan aerasi tanah

– Melindungi tanah dari daya rusak air hujan yang menimbulkan erosi ; dan – Dapat mengikat unsur N dari udara sehingga keperluan akan pupuk sintesis seperti urea dapat ditekan.

Beberapa tanaman penutup yang telah diuji dan punya prospek baik adalah Centrocema pubescen, Pueraria javanica dan Pueraria phaseloides.

Untuk tanah gundul atau hampir gundul tanah hanya perlu diolah dalam jalur selebar 20 cm dengan jarak antar jalur 1 m. Biji Centrocema disebar dalam baris, dennga diberi pupuk TSP sebanyak 50 kg/ha Biji Centrocema diperlukan sekitar 15 kg/ha.

Untuk lahan yang ditumbuhi alang-alang dua minggu sebelum dilakukan pengolahan tanah perlu dilakukan penyemprotan dengan herbisida Roundup atau Dewpont. Sesudah tanaman penutup tanah berumur satu tahun biasanya telah terbentuk serasah yang cukup tebal sehingga lahan sudah siap untuk ditanami kembali.

Tanaman penutup tersebut kemudian dibabat sampai di permukaan tanah, kemudian ditebar di permukaan lahan sebagai mulsa. Pembakaran terhadap sisa penutup tanah yang telah kering mengakibatkan usaha rehabilitasi yang telah dilakukan menjadi sia-sia.

Sebagaimana diketahui pembakalan mengakibatkan berbagai kerugian unsur hara N cepat menguap pupuk K meskipun cepat tersedia tetapi juga terganggunya aktivitas biologi sehingga pembentukan struktur lambat pula.