Apa itu Tanah Liat Merah?

Pelapukan atau dekomposisi batuan menghasilkan tanah liat. Hujan, angin, gempa bumi, letusan gunung berapi dan proses fisik dan kimia lainnya menyebabkan pelapukan dalam satu bentuk atau lainnya. Semua batuan mengandung mineral, dan ketika bebatuan mengandung oksida besi, mereka menghasilkan tanah liat merah.

Granit dan basalt adalah contoh batuan yang mengandung oksida besi. Tanah liat merah terdiri dari partikel-partikel sangat halus yang lebih dari 1.000 kali lebih kecil dari butiran pasir.

Komposisi Tanah Liat

Partikel tanah liat mengandung silika (SiO2) dan campuran mineral lainnya, seperti kuarsa, karbonat, aluminium oksida dan oksida besi. Rasio SiO2 terhadap mineral lempung lainnya dalam tanah liat menentukan jenis tanah liat.

Pelapukan lempung yang terus menerus menyebabkan pencucian mineral, seperti natrium, kalium, kalsium dan karbonat, tetapi oksida besi dan aluminium lebih stabil dan cenderung tidak bocor. Endapan lempung yang sangat lapuk mengandung sebagian besar aluminium atau oksida besi, mineral dalam tanah liat merah.

Bagian-bagian Tanah Liat

Mineral dalam partikel tanah liat sangat menarik air, menyebabkan partikel mengembang dan berkontraksi sebagai respons terhadap kondisi basah dan kering serta perubahan suhu. Ketika partikel menjadi terhidrasi dalam kondisi basah, mereka bisa menggandakan ukurannya.

Bangunan yang dibangun di atas tanah liat mungkin mengalami kerusakan struktural yang disebabkan oleh pembengkakan tanah liat musiman. Di sisi positif, oksida di tanah liat, termasuk tanah liat merah, juga bertindak seperti lem, memegang partikel tanah bersama-sama, dan berguna untuk melapisi kolam dan cekungan air.

Mineral tanah liat juga menghasilkan muatan pada partikel tanah liat, menyebabkan daya tarik ion-ion lain – molekul bermuatan dalam larutan – seperti pestisida dan kontaminan. Untuk berkebun sayur dan produksi tanaman, retensi pestisida dan kontaminan di tanah liat bisa menjadi masalah serius.

Distribusi Tanah Liat Merah

Tanah lempung merah, yang disebut ultisols, adalah tanah yang dominan di Amerika Serikat bagian tenggara, dan membentuk sekitar 8,1 persen dari daratan bebas es di seluruh dunia. Tanah ini banyak ditemukan di daerah beriklim sedang dan tropis. Sebagian karena kondisi iklim, kalsium, magnesium dan potasium telah keluar dari tanah liat merah ini, menyebabkan tanah menjadi kesuburan rendah. Suplementasi dengan bahan organik dan pupuk, bagaimanapun, dapat dengan mudah mengembalikan kesuburan ultisol.

Penggunaan Tanah Liat Merah

Penggunaan lempung merah memiliki sejarah panjang dalam pigmen untuk lukisan. Hari ini, beberapa pigmen oksida besi tanah liat telah digantikan oleh senyawa sintetis. Karena molekul air tertarik ke tanah liat, campuran air dan tanah liat membuat lumpur yang dapat dibentuk, dikeringkan dan ditembakkan ke tembikar dan bahan untuk keperluan industri.

Tanah liat merah membuat tembikar terakota dan jenis tembikar lainnya, tetapi karena kandungan besi lempung merah meleleh pada suhu yang lebih rendah daripada mineral di jenis tanah liat lainnya, kekuatan produk lempung merah lebih rendah, dan penggunaan industri biasanya terbatas pada batu bata dan genteng.

Pembentukan dan pentingnya tanah

Hewan-hewan memakan tanaman yang sebelumnya bergantung pada tanah untuk tumbuh, Beberapa binatang membuat rumah mereka di tanah (tanah adalah tempat penampungan dari beberapa hewan), Man memakan tumbuhan dan hewan yang sebelumnya bergantung pada tanah untuk tumbuh. Jika tidak ada tanah, Tanaman tidak bisa tumbuh dan tidak ada makanan untuk hewan dan manusia dan tidak ada tempat berlindung bagi banyak organisme hidup.

Pembentukan tanah

tanah dapat dibentuk oleh dipatahkannya batu oleh beberapa faktor seperti angin yang memecah batu-batu yang membentuk tanah, yang panas dan hujan memecah batu pada saat membentuk tanah, air bergegas memecah batu-batu ke potongan-potongan kecil yang membentuk tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah adalah iklim (curah hujan, suhu), vegetasi (tanaman), bahan induk (geologi dan organik), organisme (mikroba tanah dan fauna), bantuan (konfigurasi permukaan).

Bagaimana tanah Mesir terbentuk?

Asal tanah Mesir adalah batu dari Plateau Ethiopia, ketika mereka terkena selama jutaan tahun untuk beberapa faktor (seperti panas, angin, hujan dan air yang mengalir), mereka dipecah menjadi partikel kecil dengan berbagai ukuran dan bentuk. Air banjir dilakukan partikel-partikel ini dari batu ke Sungai Nil, kemudian ke Lembah Nil, di mana mereka disimpan dari tahun ke tahun sebagai lapisan tanah liat dan lumpur tersebut. Tanah liat dan lumpur adalah komponen yang sangat penting bagi tanah karena mereka kaya akan unsur-unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Pemangkasan dan penggunaan hijauan

  1. Tanaman dibiarkan tumbuh sampai tingginya sekitar 1,5 m (berumur sekitar enam bulan) sebelum dipangkas untuk pertama kalinya. Pemangkasan berikutnya bisa dilakukan sekali dalam tiga bulan.
  2. Pemangkasan dilakukan pada ketinggian 50 cm di atas permukaan tanah.
  3. Hasil pemangkasan disebar merata pada lorong di antara barisan tanaman semusim.

Keuntungan sistem pertanaman lorong:

  1. Dapat menyumbangkan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman lorong.
  2. Mengurangi laju aliran permukaan dan erosi apabila tanaman pagar ditanam secara rapat menurut garis kontur.

Masalah sistem pertanaman lorong:

1. Tanaman pagar mengambil sekitar 5-15% areal yang biasanya digunakan untuk tanaman pangan/tanaman utama. Untuk itu, perlu diusahakan agar tanaman pagar dapat memberikan hasil langsung. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan menggunakan gliricidia sebagai tanaman pagar dan sekaligus sebagai tongkat panjatan bagi vanili atau lada. Cara lain misalnya dengan menanam kacang gude sebagai tanaman pagar.

2. Sering terjadi persaingan antara tanaman pagar dengan tanaman utama untuk mendapatkan hara, air, dan cahaya. Cara mengatasinya adalah dengan memangkas tanaman pagar secara teratur supaya pertumbuhan akarnya juga terbatas.

3. Kadang-kadang terjadi pengaruh alelopati dan berkembangnya hama atau penyakit pada tanaman pagar yang dapat mengganggu tanaman pangan.

4. Tenaga kerja yang diperlukan untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar cukup tinggi.

Keuntungan Tanaman mucuna (Leguminosa pansan)

Biji Mucuna dapat dibuat tempe atau setelah direbus selama 24 jam akan dapat pula dicampur dengan ubi kayu untuk meningkatkan gizi ubi kayu. Beberapa keuntungan rehabilitasi Iahan tidur dengan tanaman penutup tanah seperti Centrocema dan Mucuna antara lain adalah:

  1. Disamping menghasilkan biji, daun tanaman Mucuna menghilangkan racun HCN yang cukup tinggi sehingga tidak disukai ternak. Mengurangi gangguan pencurian oleh pencari rumput dapat diatasi dan penyediaan bahan organik tanah dengan tanaman ini Iebih terjamin
  2. Mucuna juga sangat cepat pertumbuhannya dan dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah seperti tanah-tanah berkapur (Alfisol) atau pada tanah masam Podsolik.
  3. Pertumbuhan Mucuna pada lahan tandus jauh Iebih baik dibandingkan dengan jenis Ieguminosa lain seperti komak (Dolichus lablab), dan kacang tunggak.

Penanaman tanaman penutup tanah (cover crop) sebelum maupun setelah bibit kelapa sawit ditanam bertujuan untuk menekan perkembangan gulma, mengurangi biaya penyiangan, mengurangi erosi, menambah bahan organik tanah, menjaga kelembaban tanah, memperbaiki aerasi dan meningkatkan cadangan unsur hara terutama melalui fiksasi Nitrogen bebas dari udara dan mentransformasikannya menjadi bentuk tersedia. Jenis tanaman penutup tanah yang memenuhi tujuan tersebut adalah tanaman jenis kacangan (Leguminosae) menjalar. Selain kacangan, dikenal pula jenis rumput lunak menjalar yang dapat menutup tanah namun fungsinya tidak sebaik jenis tanaman kacangan.

Kacangan penutup tanah ditanam pada lahan terbuka di anatara jalur penimbunan kayu. Bahan yang digunakan yaitu beberapa jenis benih kacangan dengan daya tumbuh minimal 90%.

Kacangan ditanam 2-3 baris di antara jalur tanam. Setelah 3 bulan, lahan tertutup oleh kacangan dengan tingkat penutupan 75%. Kacang-kacangan yang digunakan sebagai tanaman penutup tanah hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:

– sistem perakarannya tidak mengganggu tanaman utama.

– bukan merupakan pesaing berat bagi tanaman utama dalam serapan hara maupun air.

– mudah diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif.

– pertumbuhannya cepat dan berpotensi menekan gulma.

– menghasilkan bahan organik yang tinggi, baik pada saat mendapat sinar matahari penuh maupun di bawah naungan.

– tahan terhadap hama, penyakit dan kekeringan serta bukan merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman utama.

Pertumbuhan panjang Mucuna bracteata mencapai 20cm setiap hari atau 1,4m setiap minggu. Hali ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sawit pada TBM (Tanaman belum Menghasilkan).

Untuk itu perlu adanya rotasi penyiangan secara rutin agar lebih afektif dan efisien. Penyiangan yang dilakukan dengan mambuang semua gulma dari permukaan tanah, sehingga piringan benar-benar bersih. Pengawasan yang teliti menjadi faktor penting untuk keberhasilan penyiangan.

Ada beberapa macam Mucuna yang umurnya bervariasi dari 4, 8, dan 12 bulan, untuk usaha rehabilitasi lahan tidur sebaiknya digunakan yang berumur 8 – 12 bulan karena dapat menghasilkan bahan hijauan yang Iebih banyak.

Dampak Erosi dari Bentuknya

Erosi dapat menyebabkan terdegradasinya lahan melalui hilang atau terkikisnya lapisan tanah atas, sehingga dapat berdampak buruk terhadap tanah.

Dampak buruk dari erosi dilihat dari tempatnya dibedakan jadi ada dua yaitu :

  1. Dampak di tempat kejadian erosi (on-site).
  2. Dampak di luar tempat kejadian erosi (off-site).

Dampak langsung erosi on-site antara lain :

  1. Kehilangan unsur hara dan bahan organik.
  2. Menurunya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air.
  3. Meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah.
  4. serta berkurangnya kemantapan struktur tanah yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan menurunnya produktivitas.

Dampak tidak langsung erosi on-site adalah berkurangnya alternatif penggunaan tanah, timbulnya dorongan untuk membuka lahan baru, Dampak tidak langsung di luar tempat kejadian erosi yaitu kerugian akibat memendeknya umur waduk, meningkatnya frekuensi dan besarnya banjir (Arsyad, 2000).

Salah satu dampak lingkungan yang muncul akibat pembangunan pertanian baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi – adalah degradasi lahan atau erosi tanah. Pierce (1991) mengemukakan bahwa erosi tanah mempengaruhi produktivitas tanah. Erosi dapat mengubah kondisi fisik dan kimiawi tanah.

Erosi tanah merupakan penyebab utama dari degradasi tanah di seluruh dunia. Di samping dapat menyebabkan degradasi tanah, erosi dapat juga merusak tanaman yang pada akhirnya mengurangi produktivitas.

Dampak erosi tanah terhadap produktivitas bervariasi cukup besar antar tempat dan waktu. Semua lahan, beserta jenis tanaman apapun yang tumbuh di atasnya, sewaktu-waktu dapat mengalami erosi. Laju erosi tanah sangat dipengaruhi oleh bagaimana lahan tersebut dikelola/digunakan.

Setiap bentuk penggunaan lahan yang berbeda akan menghasilkan tingkat erosi tanah yang berbeda pula. Tingkat erosi suatu lahan dipengaruhi oleh jenis vegetasi yang ditanam dan teknik pertanian yang digunakan (Miranda, 1992).