Contoh Cacing Pipih (Platyhelminthes)

Turbellaria, Trematoda dan Cestoda. Semua cacing pipih, menurut Keren Galapagos, yang hermafrodit, cacing bertubuh lunak dengan sistem saraf dasar, tidak ada sistem pernafasan atau peredaran darah dan saluran pencernaan sederhana dengan bukaan tunggal.

Trematoda

Kelas Trematoda terdiri dari cacing. Cacing adalah cacing pipih parasit yang memerlukan dua host untuk melengkapi siklus hidup mereka. Mereka memulai hidup mereka dalam bentuk kehidupan yang lebih rendah seperti siput, kemudian pindah untuk menyerang manusia dan hewan lainnya.

Cacing, kata Animal Planet, umumnya ditemukan di daerah tropis dan Timur Jauh, tetapi juga dapat ditemukan di bagian lain dunia. Mereka menyebarkan infeksi dan penyakit pada manusia dan hewan. Cacing umum termasuk Cacing darah, cacing hati Cina dan cacing lancet hati. [

Cestoda

Lebih dari 1.500 spesies cacing pita membuat kelas Cestoda. Cacing pita adalah parasit cacing pipih yang menyerang saluran usus hewan dan manusia dan mampu tumbuh hingga 75 kaki panjang, menyebabkan infeksi, reaksi alergi dan penyakit.

Setelah masuk inangnya, cacing pita menggunakan pengisap untuk melampirkan kepalanya ke dinding usus. Menyerap nutrisi dari inangnya dan terus menghasilkan segmen baru yang berisi ribuan telur, yang dirilis melalui kotoran inang.

Turbellaria

Kelas Turbellaria terdiri dari sekitar 3.000 spesies planaria. Planaria cacing pipih biasanya nonparasitic, dan dapat ditemukan di air tawar, air asin, dan, lebih jarang, tanah yang lembab.

Menurut Animal Planet, planaria menggunakan silia mereka untuk meluncur melalui lingkungan mereka. Mereka juga dapat memindahkan jarak pendek menggunakan gerakan merangkak cepat. Mereka memakan protozoa, bakteri, krustasea, cacing kecil, dan hewan dan materi tanaman.[

Contoh Cacing Gepeng (Platyhelminthes)
Contoh Cacing Gepeng (Platyhelminthes)

Rantai Makanan

Cacing pipih, menurut Keren Galapagos, menempati link yang bervariasi dalam rantai makanan. Sebagai parasit, Cestoda dan Trematoda berada di puncak rantai makanan masing-masing. Mereka dimakan tetapi tidak dicerna, atau tidak dikonsumsi sama sekali. Di sisi lain, Turbellarians merupakan sumber makanan biasa untuk ikan, amfibi, krustasea dan kumbang. Mereka juga bermanfaat bagi lingkungan dengan mengkonsumsi dan mengatur populasi protozoa, alga dan rotifera.

Ciri-ciri Umum Platyhelminthes

Platyhelminthes adalah filum yang sangat menarik yang berisi hampir 20.000 spesies. Organisme ini umumnya hermafrodit, yang berarti mereka dapat memiliki kedua organ seksual pria dan wanita dan dapat menghasilkan keturunan sendiri. Filum ini mencakup semua cacing pipih kecuali Nemertea, yang dulu merupakan salah satu kelas pada Platyhelminthes, yang telah dipisahkan.

Ciri-Ciri Platyhelminthes

1. Mempunyai bentuk tubuh pipih.
2. Tidak mempunyai rongga tubuh (selom).
3. Simetris bilateral, tubuh triploblastik.
4. Pencernaan dengan gastrovaskuler.
5. Bernapas dengan seluruh permukaan tubuh.

6. Tidak memiliki sistem peredaran darah.
7. Mempunyai ganglion sebagai sistem syaraf.
8. Memiliki sel api sebagai alat ekskresi.
9. Pada umumnya bersifat hemafrodit, yang artinya terdapat dua jenis alat kelamin yaitu jantan dan betina dalam satu individu namun jarang terjadi pembuahan sendiri.

Klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih)

Adapun Platyhelminthes itu sendiri bisa dibedakan dalam tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan juga Cestoda..

– Turbellaria (cacing berambut getar)

contohnya: Planaria yang mana mereka hidup bebas di air tawar, memiliki daya regenerasi yang tinggi, bersifat hermafrodit, dan mempunyai alat eksresi brupa sel-sel api (flame cell).

– Trematoda (cacing hisap)

Merupakan Platyhelminthes yang bersifat parasite, baik pada hewan ataupun juga manusia. Contohnya:

a. Fasciola hepatica yaitu parasite pada hati hewan ternak dengan inang perantaranya siput ( Lymnaea ). Adapun siklus hidup Platyhelminthes (cacing pipih) itu sendiri adalah sebagai berikut.

1. Fasciola hepatica menghasilkan telur pada hati hewan ternak, lalu telur kemudian berpindah melalui aliran darah ke empedu dank e usus, lalu keluar bersama tinja.
2. Telur menetas dan tumbuh menjadi mirasidium (larva 1) bersilia di tempat basah atau yang berair.
3. Kemudian mirasidium menginfeksi inang perantara, yaitu siput air (Lymnaea).
4. Setelah itu mirasidium berubah menjadi sporokis dalam tubuh siput.
5. Kemudian secara aseksual berubah menjadi redia (larva II).
6. Redia bermetamorfosis menjadi serkaria . Serkaria keluar dari tubuh siput lalu menempel pada tumbuhan atau rumput air.
7. Lalu serkaria membentuk (cacing muda).
8. Dan terakhir metaserkaria dimakan oleh hewan ternak, kemudian larvanya masuk ke dalam usus, kemudian terbawa aliran darah dan menjadi cacing dewasa pada organ hati.

b. Chlonorchis sinensis adalah cacing hati manusia dengan inang perantara ikan air tawar.
c. Schistosoma japonicum disebut cacing darah dengan inang perantara siput.
d. Fasciolopsis buski parasite pada usus halus manusia dengan inang perantaranya tumbuhan air.

– Cestoda (cacing pita)

Bersifat parasite dengan bentuk tubuhnya tersusun atas rangkaian segmen-segmen yang disebut proglotid . Dan pada bagian ujung segmen terdapat kepala (skoleks) yang memiliki alat isap. Pada cestoda belum memiliki alat pencernaan.
Contoh:
1. Taenia solium . Inang perantaranya babi dan memiliki pengait pada skoleks.
2. Taenia saginata . Inang perantaranya sapi dan tidak memiliki pengait pada skoleks.

Siklus hidup cacing pita : Proglotid keluar bersama feses manusia lalu tertelan oleh sapi atau babi bersama makanannya dan menetas menjadi heksakan (onkosfer) lalu menembus dinding usus sapi atau babi menjadi sistisrkus dalam otot atau daging dan kemudian daging tersebut termakan oleh manusia, kemudian sisterkus berubah menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia.