Perbedaan antara pialang saham dan Penasehat Keuangan

Investasi dan perencanaan keuangan dapat melelahkan dan membingungkan. Banyak orang tidak menyadari perbedaan antara pialang saham dan penasihat keuangan. Mereka percaya bahwa dua orang ini melakukan fungsi yang sama. Hal ini tidak terjadi, meskipun keduanya erat terkait.

Seorang pialang saham adalah agen yang mengikuti beli dan jual perintah investor. Pada saat pialang saham yang mungkin diminta nasihat untuk apa saham harus dibeli atau dijual.

Seorang penasihat keuangan dapat menyediakan berbagai layanan, termasuk saran pialang saham. penasihat keuangan dapat membantu perencanaan pensiun, nasihat investasi, persiapan pajak atau perencanaan estate. perencana keuangan, pialang saham dan agen asuransi semua bisa jatuh di bawah istilah generik ini.

Pialang saham vs penasihat Keuangan

Apa perbedaan antara seorang pialang saham dan penasihat keuangan? jawabannya sederhana. ‘Penasihat keuangan’ merupakan istilah umum yang mencakup broker saham, antara lain jenis perencana dan penyedia jasa keuangan keuangan. Semua pialang saham adalah penasihat keuangan, tetapi tidak semua penasihat keuangan pialang saham.

3 Fungsi dan 7 Tujuan Bank Indonesia

Kestabilan mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa yang tercermin dari laju inflasi, serta menjaga kestabilan terhadap mata uang negara lain yang diukur dan tercermin pada perkembangan nilai tukar atau kurs mata uang.

Untuk mencapai tujuan di atas, Bank Indonesia mempunyai 3 tugas pokok dan fungsi yaitu:
1) Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, melalui:
a) Kebijakan operasi pasar terbuka, yaitu menjual SBI (Sertifikat Bank Indonesia) untuk mengurangi jumlah uang yang beredar atau membeli surat berharga dari masyarakat untuk menambah jumlah uang yang beredar.
b) Kebijakan diskonto, yaitu kebijakan untuk menentukan tingkat suku bunga kredit bank umum, apabila suku bunga terhadap bank umum dinaikkan, tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang yang beredar, sebaliknya jika bunga diturunkan maka tujuannya untuk menambah uang yang beredar di masyarakat.

c) Kebijakan cash ratio/CAR yaitu cadangan wajib minimum yang harus ditaati oleh bank umum, kebijakan ini ditempuh untuk mengendalikan uang yang beredar di masyarakat. Dengan menaikkan cash ratio maka uang yang beredar akan berkurang.

d) Kebijakan pengaturan kredit dan pembiayaan. Dalam kebijakan ini Bank Indonesia dapat menaikkan ataupun menurunkan batas maksimum (pagu) pemberian kredit/pembiayaan.

2) Bank Indonesia mengatur dan menjaga kelancaran sistem moneter. Hal ini dilakukan Bank Indonesia dengan jalan :

a) melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan sistem pembayaran seperti transfer dana dalam nilai yang besar dan lain jenisnya;
b) mewajibkan penyelenggara sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya;
c) menetapkan penggunaan alat pembayaran;

d) mengatur sistem kliring (transaksi antarbank) dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing;
e) menetapkan macam, harga, dan ciri uang yang akan dikeluarkan; bahan yang digunakan dan tanggal mulai berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah.
f) Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang kartal dari peredaran. Bank Indonesia mempunyai hak tunggal (hak otroi) untuk mencetak uang dan mengedarkan uang kartal.

3) Bank Indonesia mengatur dan mengawasi bank lain.
Bank Indonesia sering juga disebut banknya para bank (banker’s of bank), maksudnya Bank Indonesia merupakan sumber pinjaman ataupun tempat menyimpan uang dari bank-bank umum, sehingga bank Indonesia hanya melayani nasabah bank, bukan perorangan. Dalam tugasnya mengatur dan mengawasi bank lain,

BI mempunyai tugas:
a) memberikan dan mencabut izin usaha bank,
b) memberikan izin pembukaan, penutupan, dan pemindahan kantor bank,
c) memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank,

d) memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu,
e) melakukan pengawasan dan pemeriksaan langsung maupun tidak langsung, secara berkala maupun mendadak terhadap perusahaan induk, perusahaan cabang, dan pihak terkait dari bank umum,
f) mengatur dan mengembangkan sistem informasi antar bank,
g) mengawasi kegiatan bank umum dan lembaga keuangan lainnya.

Teori Kuantitas dari Ricardo

David Ricardo adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat maka nilai uang akan menurun menjadi setengah dari semula. Sebaliknya, apabila jumlah uang berkurang hingga setengah maka nilai uang akan naik menjadi dua kali lipat.

Salah satu kelemahan teori David Ricardo yaitu menganggap semua uang yang dimiliki masyarakat pasti digunakan untuk membeli. Padahal ada sebagian uang yang digunakan masyarakat untuk menabung atau berinvestasi. Oleh karena itu, menurut teori ini jika jumlah uang yang beredar ditambah dua kali lipat maka harga-harga juga akan naik dua kali lipat.

Dalam setiap transaksi selalu ada pembeli dan penjual. Jumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli harus sama dengan uang yang diterima oleh penjual. Hal ini berlaku juga untuk seluruh perekonomian: didalam suatu periode tertentu nilai dari barang-barang atau jasa-jasa yang dibeli harus sama dengan nilai dari barang yang dijual.

Nilai dari barang yang dijual sama dengan volume transaksi (T) dikalikan harga rata-rata dari barang tersebut (P). Dilain pihak nilai dari barang yang ditransaksikan ini harus sama dengan volume uang yang ada dimasyarakat (M) dikalikan berapa kali rata-rata uang bertukar dari tangan satu ke tangan yang lain, atau rata “perputaran uang”, dalam periode tersebut (Vt). MVt = PT adalah suatu identitas, dan pada dirinnya bukan merupakan suatu teori moneter.

Hal ini terjadi karena jika jumlah uang naik menjadi dua kali lipat, otomatis nilai uang akan menurun menjadi setengahnya. Teori ini dituliskan dengan rumus sebagai berikut.

Teori Kuantitas dari Ricardo
Teori Kuantitas dari Ricardo

di mana :
M = jumlah uang (quatity of money)
P = tingkat harga (Price)
k = konstanta/pembanding tetap
Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini.

Teori Kuantitas dari Ricardo
Teori Kuantitas dari Ricardo

Gambar 7.2
Grafik hubungan antara tingkat harga dan jumlah uang yang beredar

Penjelasan:

Jumlah uang yang beredar semula sebesar 0M1 dan tingkat harga tertinggi 0P1. Jika jumlah (kuantitas) uang naik dua kali lipat (0M2) maka harga naik sebesar dua kali (0P2), sehingga nilai uang turun tinggal setengahnya. Teori kuantitas yang dikemukakan Ricardo tersebut sangat sederhana karena tidak memerhatikan faktor yang memengaruhi nilai uang seperti :
a) jumlah uang yang beredar,
b) kecepatan peredaran uang yang berhubungan dengan jumlah permintaan uang,
c) jumlah barang dan jasa yang diperdagangkan.

Jelaskan 4 Fungsi Bank

Menurut fungsinya bank dapat dibedakan menjadi :

a) Bank Sentral, yaitu bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 yang telah diperbaharui dengan UU Nomor 23 Tahun 1999.

b) Bank Umum, yaitu bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito dan bentuk usahanya memberikan kredit jangka pendek. Contoh: Bank Niaga, Bank Bali, Lippo Bank, Panin Bank, dan lain-lain.

c) Bank Tabungan, yaitu bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk tabungan, dan dalam usahanya memperbungakan dananya dalam bentuk kertas berharga.
Contoh: Bank Tabungan Pensiunan Nasional.

d) Bank Pembangunan, yaitu bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk deposito dan atau mengeluarkan kertas berharga jangka panjang dan jangka menengah, sedangkan usahanya terutama memberikan kredit jangka menengah dan jangka panjang di bidang pembangunan. Contoh : Bapindo, BPD (Bank Pembangunan Daerah).

memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Seperti halnya di negara-negara lain, sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan.

Oleh sebab itu, kegagalan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan mengganggu perekonomian. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut, sistem pengawasan dan kebijakan perbankan yang efektif haruslah ditegakkan. Selain itu, disiplin pasar melalui kewenangan dalam pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan.

Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan.

Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan, Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II.

Penyalur/pemberi Kredit Bank dalam kegiatannya tidak hanya menyimpan dana yang diperoleh, akan tetapi untuk pemanfaatannya bank menyalurkan kembali dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang memerlukan dana segar untuk usaha.

Tentunya dalam pelaksanaan fungsi ini diharapkan bank akan mendapatkan sumber pendapatan berupa bagi hasil atau dalam bentuk pengenaan bunga kredit. Pemberian kredit akan menimbulkan resiko, oleh sebab itu pemberiannya harus benar-benar teliti

Arti Penting Sistem Pembayaran

1) Manfaat bagi Perekonomian

a) Menghilangkan hambatan perdagangan dari sisi pembayaran untuk transaksi perdagangan.
b) Meningkatkan monetisasi ekonomi dalam kaitannya dengan peningkatan pelayanan jasa bank kepada nasabah dengan adanya suatu system pembayaran yang efisien, efektif, dan aman.
c) Biaya transaksi yang lebih rendah. Apabila sistem pembayaran terintegrasi akan memungkinkan pemrosesan pembayaran dilakukan lebih efisien.
d) Mempermudah akses terhadap perekonomian global.

2) Manfaat bagi Perbankan

a) Meningkatkan efisiensi pengelolaan dana.
b) Meningkatkan pelayanan jasa yang lebih luas dan lebih baik sehingga meningkatkan daya saing.
c) Menurunkan biaya investasi dalam mengembangkan financial network.

3) Manfaat bagi Masyarakat

a) Alternatif alat pembayaran nontunai lebih luas, efisien, praktis, dan aman.
b) Mengurangi biaya transaksi.
c) Memperluas akses kerja perbankan.
d) Meningkatkan kepastian pembayaran.

4) Manfaat bagi Bank Indonesia

a) Menunjang pengendalian moneter melalui :
(1) Penurunan jumlah warkat dalam penyelesaian yang dapat menyebabkan kurang akuratnya perhitungan giro wajib minimum
(GWM) atau reverse bank-bank di Indonesia.
(2) Penyediaan informasi secara seketika mengenai warkat-warkat yang diproses dan pergerakan dana.

b) Menunjang stabilitas keuangan pasar perekonomian modern sangat tergantung pada sistem pembayaran yang efektif, efisien, dan aman.
Adanya gangguan dalam sistem pembayaran dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan/bank yang pada gilirannya dapat menimbulkan risiko sistemik (efek domino).

c) Menunjang pembinaan dan pengawasan bank melalui :
– Penurunan risiko sistemik yang mungkin terjadi karena risiko, likuiditas, kredit, dan cross currency transaction antarnegara yang berbeda zona waktu.
– Penyediaan informasi secara real time dan akurat tentang likuiditas suatu bank.

Sedangkan jenis-jenis pembayaran antara lain adalah :

1) Pembayaran yang bernilai kecil (small value transfer system/retail payment system)
Adalah sistem pembayaran yang mendukung berbagai jenis transaksi sehari-hari yang dilakukan masyarakat, baik yang merupakan pembayaran rutin seperti pembayaran gaji, tagihan telepon, listrik dan lain-lain maupun pembayaran nonrutin.

2) Pembayaran secara batch (batch payment system)
Adalah sistem pembayaran di mana pihak yang mengeluarkan pembayaran final adalah institusi/lembaga keuangan yang yang mewakili nasabah.

3) Pembayaran yang bernilai besar (large payment system)
Pembayaran ini umumnya dilakukan oleh perbankan dan perusahaan untuk mendukung transaksi-transaksi perekonomian bernilai besar, seperti pasar modal, perdagangan surat-surat berharga, dan valuta asing.