9 bentuk akomodasi

Beberapa bentuk akomodasi antara lain sebagai berikut.

1) Kompromi
Di dalam kompromi, setiap pihak setuju untuk membuat konsesi yang memungkinkan mereka mencapai persetujuan. Hal ini dapat berlanjut sampai semua pihak puas.

2) Arbitrasi
Perselisihan dan konflik antara dua pihak yang sulit diatasi dengan kompromi, sering diatasi dengan arbitrasi. Di sini pihak ketiga, baik yang dipilih dan ditentukan oleh kedua belah pihak, maupun badan yang lebih tinggi dari kedua belah pihak itu diminta bantuannya.

3) Coercion
Coercion, yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh suatu paksaan, di mana salah satu pihak berada dalam keadaan lemah sekali dibandingkan dengan pihak lawan.

4) Conciliation
Conciliation, yaitu suatu usaha untuk memperhatikan keinginankeinginan pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai suatu persetujuan.

5) Stalemate
Stalemate, yaitu suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan.

6) Konversi
Dalam bentuk akomodasi ini, satu dari pihak-pihak yang terlibat konflik menerima aspek-aspek tertentu dari pandangan-pandangan pihak yang lain. Konversi ini sering dihubungkan dengan kepercayaan agamawi.

7) Toleransi
Dalam toleransi manusia menerima hak dari setiap orang atau pihak lain untuk berbeda pendapat. Di sini dibutuhkan saling pengertian. Bentuk akomodasi seperti ini kadang-kadang baru berhasil dengan baik setelah kompromi dan konvensi gagal.

8) Truce
Ini merupakan suatu persetujuan untuk menghentikan interaksi yang bersifat konflik atau persaingan untuk suatu periode waktu yang ditentukan.

9) Displacement
Cara ini berhubungan dengan usaha mengakhiri konflik, dengan mengalihkan perhatian pada objek bersama.
Gillin menguraikan hasil-hasil dari terjadinya suatu proses akomodasi, dengan banyak mengambil contoh dari sejarah.

a) Akomodasi menyebabkan usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri dari benih-benih yang dapat menyebabkan pertentangan yang baru untuk kepentingan integrasi masyarakat.

b) Akomodasi juga menahan keinginan-keinginan untuk bersaing yang hanya membuang biaya dan tenaga saja.

c) Seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu (misalnya golongan produsen) sekalipun menyebabkan kerugian pihak lain (pihak konsumen).

d) Akomodasi menyebabkan suatu penetapan yang baru dari kedudukan orang perorangan dan kelompok manusia. Pertentanganpertentangan menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan suatu akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukan tersebut.

e) Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi. Dengan adanya proses asimilasi maka akan saling mengenal pihak-pihak lain sehingga akan lebih mudah untuk saling mendekati, dan akan timbul benih-benih toleransi.

f) Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda. Hal ini terlihat dengan jelas kalau dua orang misalnya, bersaing untuk menduduki kedudukan sebagai pemimpin suatu partai politik. Di dalam kampanye pemilihan, persaingan dilakukan dengan sengit, tetapi bila salah satu telah terpilih, biasanya yang kalah diajak untuk bekerja sama.
g) Perubahan dari institusi-institusi sosial supaya sesuai dengan keadaan yang baru.

e. Asimilasi
Asimilasi sebagai suatu proses difusi budaya melalui individuindividu dan grup-grup secara budaya menjadi sama. Proses ini terjadi bila dua kebudayaan yang berbeda bertemu dan kebudayaan yang dominan berasimilasi dengan kebudayaan yang lain.

Proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walaupun kadang-kadang bersifat emosional, bertujuan mencapai kesatuan atau paling sedikit suatu integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan.

Kalau seseorang mengadakan asimilasi ke dalam suatu kelompok maka dia tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompoknya. Dalam proses asimilasi mereka mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan kelompok. Apabila kelompok-kelompok mengadakan asimilasi maka batas-batas antara kelompok-kelompok tadi akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu.

Beberapa faktor penghambat asimilasi menurut Koentjaraningrat antara lain sebagai berikut.

1) Perbedaan-perbedaan fisik.
2) Perbedaan ekstrem dalam latar belakang budaya, misalnya diskriminasi ras di Afrika Selatan.
3) Prasangka pribadi yang negatif. Misalnya, ada orang tua di Jawa melarang anaknya berpacaran dengan anak luar Jawa karena berprasangka bahwa anak luar Jawa itu pasti akan mempermainkan cinta anak gadisnya.

Beberapa faktor yang mempermudah asimilasi antara lain sebagai berikut.

1) Toleransi.
2) Suatu sikap yang menghargai orang asing dan kebudayaannya.
3) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
4) Kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi seimbang.
5) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa.
6) Adanya musuh bersama dari luar.
7) Adanya perkawinan campuran (amalgamation).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *