Apa Tujuan dakwah

Tujuan ini dimaksud sebagai pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab, tanpa tujuan yang jelas, seluruh kegiatan dakwah akan sia-sia. Apalagi bila di tinjau dari pendekatan sistem, tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah.

Menurut al-qur’an, salah satu tujuan dakwah dapat ditemukan dalam surat yusuf ayat 108

Yang artinya “katakanlah, “inilah jalan (Agama)Ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan bujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”.

Menurut ayat di atas, salah satu tujuan dakwah adalah membentangkan jalan Allah di atas bumi agar dilalui umat manusia. Dengan berdasarkan diri pada ayat di atas, Abdul Rasyid Shaleh membagi tujuan dakwah menjadi dua, yakni tujuan utama dakwah (ultimate goal) dan tujuan departemental (tujuan perantara) kadang disebut juga tujuan menengah atau lanjutan (intermediate goal). Lebih jauh ia menganalisis:

Tujuan utama dakwah ialah nilai atau hasil akhir yang ingin di capai atau di peroleh oleh keseluruhan tindakan dakwah. Untuk tercapainya tujuan utama inilah maka semua penyusunan, semua rencana, dan tindakan dakwah harus di tunjukan dan diarahkan.

Tujuan utama dakwah sebagaimana telah di rumuskan ketika memberi pengertian tentang dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang di ridhai Allah Swt.

Dilihat dari segi utama tujuan dakwah, tujuan departemental adalah merupakan tujuan perantara. Sebagai perantara oleh karenanya tujuan departemental berintikan nila-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang di ridhai Allah Swt, masing-masing sesuai dengan segi atau bidangnya.

Dengan demikian, merujuk pada kutipan di atas, tujuan utama dan tujuan departemental dakwah merupakan dua hal terkait yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Tujuan utama merupakan muara akhir dari tujuan departemental merupakan sarana bagi tercapainya tujuan utama.

Salah satu contoh dari proses pencapaian tujuan departemental dakwah adalah dalam bidang pendidikan. Pada wilayah ini, untuk tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan, terdapat suatu nilai yang ditandai adanya sistem pendidikan yang baik, tersedianya sarana pendidikan yang cukup, serta bentuk objek pendidikan menjadi manusia yang bertakwa, berakhlak, dan berilmu pengetahuan yang tinggi dan sebagainya, demikian dalam hal kehidupan yang lainnya. (asep muhyiddin dan agus ahmad safei, op. Cip, hlm 177)

Senada dengan di atas Amrullah Ahmad membagi tujuan dakwah pada dua garis besar, yaitu tujuan jangka pendek (mikro) dan tujuan jangka panjang (makro).

Tujuan jangka pendek lebih menajam kepada upaya peningkatan insan-insan yang berkualitas, membangun manusia-manusia shaleh, merubah stratifikasi yang rendak kepada yang lebih baik dan terhormat. Dengan kata lain mencapai khairul bariyyah. Beberapa hal yang harus di perhatikan seorang da’i untuk membangun insan-insan berkualitas ini:

  1. Tau karakter yang mau di bangun
  2. Tahu kebutuhannya
  3. Tahu masalahnya
  4. Tahu pemecahannya

Sedangkan tujuan jangka panjang (makro) adalah membangun kehidupan masyarakat yang berkualitas dengan perkataan lain “baldatun thoyibatun warabun ghafur” “Negri yang baik dan Tuhan memberi ampunan” atau istilah lain di sebut masyarakat madani yaitu suasana kehidupan masyarakat yang di liputi oleh nuansa iman taqwa. Upamanya bagaimana membangun sistem sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan yang islami (khairul ummah).

Dakwah haruslah di arahkan pada pembentukan masyarakat baru. Masyarakat yang kapitalis sekularistik diubah menjadi masyarat islam. Ini persis seperti wadah yang berisikan air comberan, diganti dengan air putih bersih yang menyegarkan. Gelasnya tetap tetapi isinya berubah total. Itulah yang di lakukan Rasulullah saw dan para sahabat di mekah, madinah, yaman dan lain-lain. Daerahnya tetap seperti sediakala namun aturannya deganti dengan ajaran islam.

Sedangakan M. Natsir menjelaskan tujuan dakwah adalah:

  1. Memanggil kita kepada syariat, untuk memecahkan persoalan hidup, baik persoalan hidup perseorangan atau persoalan berumah tangga, berjamaah-bermasyarakat, berbangsa-bersuku bangsa, bernegara.
  2. Memanggil kita kepada fungsi hidup kita sebagai hamba Allah di atas dunia yang terbentang luas ini, berisikan manusia berbagai jenis, bermacam pola pendirian dan kepercayaan, yakni fungsi sebagai syuhada ala an-nas, menjadi pelopor dan pengawas bagi umat manusia.
  3. Memanggil kita kepada tujuan hidup yang hakiki, yakni menyembah Allah. Demikianlah, kita mempunyai fungsi hidup tujuan tertentu (Tohir Luth, M. Natsir dakwah dan pemikirannya. (jakarta: Gema Insani, 1999). Cet. 1, hlm. 70)

Sedangkan Syukiadi Sambas menjelaskan tujuan dakwah islam, dengan mengacu kepada kitab Al-qur’an sebagai kitab dakwah, dapat di rumuskan sebagai berikut:

  1. Mengeluarkan dan membebaskan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) kepada kehidupan terang benderang.
  2. Menegakan fitrah insaniah, yauitu tauhidullah, dan menjalankan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah.
  3. Menegakan sibghah Allah (celupan hidup dari Allah) dalam kehidupan mahluk Allah, yaitu suatu pola hidup yang dilandasi oleh iman kepada Allah.
  4. Memproporsikan tugas ibadah manusia sebagai hamba Allah sebagai aktualisasi fitrahnya.
  5. Mengestaperkan tugas kenabian dan kerasulan.
  6. Menegakan aktualisasi pemeliharaan agama, jiwa, akal, generasi, dan sarana hidup.
  7. Perjuangan memenangkan ilham takwa atas ilham fujur dalam kehidupan individu, keluarga, kelompok dan komunitas manusia. (Syukiadi Sambas, op. Cit,. Hlm. 75.)

Untuk melihat keberhasilan  kegiatan dakwah terutama yang berhubungan  dengan tujuan jangka panjang, tentunya memerlukan proses dan waktu yang cukup lama. Mencermati perjuangan dakwah Rasulullah saw dihubungkan dengan lamanya proses turun Al-quran. Dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari lamanya, ayat-ayat al-quran silih berganti turun, dan selama itu pula Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya tekun mengajarkan al-quaran, dan membimbing umatnya. Sehingga pada akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah ridha dan ampunan ilahi.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *