Pengertian Hukum Syara

Syara’ atau syariat merupakan norma hukum dasar yang ditetapkan Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad sebagai rasulnya yang wajib diikuti oleh setiap orang islam berdasarkan keyakinan dan ahlak baik dalam hubungannya dengan Allah, manusia / lingkungannya.
Advertisement

Hukum syara’ menurut istilah para ahli ushul fiqh adalah :
khithab syar’i yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf, baik dalam bentuk tuntutan, pilihan / ketetapan.

Firman Allah swt;

“ jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya “

Hukum syara’ juga dapat diartikan seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.

Hukum syara terbagi dua macam:

a. Hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat atau meninggalkan.
b. Hukum wadh’i adalah firman Allah swt. yang menuntuk untuk menjadikan sesuatu sebab, syarat atau penghalang dari sesuatu yang lain.

Advertisement

Macam- macam hokum Syara, yaitu:

1. Wajib. Sebuah tindakan yang telah dituntut oleh syara ‘(Allah swt) Dengan bentuk tuntutan. Harus. tindakan hukum harus dilakukan. Bagi mereka yang mendapatkan penghargaan dan hukuman bagi mereka yang pergi. Sebagai contoh, puasa Ramadhan adalah wajib. Oleh karena itu, teks-teks yang dipakai untuk menuntut tindakan ini adalah untuk menunjukkan perlunya. “Hai orang yang beriman, puasa adalah Diwajibkan atas kamu.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]

2. Haram. Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara ‘(Allah swt) Untuk menjadi kiri dengan tuntutan kebutuhan.. Hukumnya tidak sah dan bila melakukan pekerjaan pada hukuman. Misalnya, meninggalkan tuduhan perzinahan, tuntutan meninggalkan makan bangkai, darah dan daging babi.

3. Mandub (sunnah). Mandub merupakan prioritas untuk bekerja daripada ditinggalkan, tanpa kewajiban. Pekerjaan itu dihargai, yang membuatnya tidak hukuman, meskipun kritik tersebut. Mandub biasa disebut sunnah, baik sunnah muakkadah (dikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah (mustahab).

4. Makruh. Makruh adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dilakukan, dengan tidak ada unsur paksaan. Misalnya doa, dilarang di tengah jalan. Yang tidak mendapatkan dosa meskipun kadang-kadang mendapatkan kritik.

5. Diperbolehkan. Diperbolehkan adalah mukallaf dibolehkan memilih (oleh Allah swt) Antara melakukan sesuatu atau meninggalkannya, dalam arti tidak ada satu lebih disukai.. Sebagai contoh, firman Allah swt. “Dan makan dan minum dengan kalian semua.” Sebenarnya, ada pahala tidak ada, tidak ada hukuman, dan tidak ada kecaman atas tindakan yang dilakukan atau kiri dimubahkan.

menurut Kalangan Ahli Ushul fiqh,hukum syara’adalah“Khitab(titah) Allah yg menyangkut tindak tanduk mukallaf dalam bentuk tuntutan,pilihan berbuat atau tidak;atau dalam bentuk ketentuan ketentuan.”Contoh: “Kerjakanlah Shalat”,Janganlah kamu memakan harta org lain scr bathil .

(Syarifudin,amir,2008:334) ahli ushul memandang tentang pengetahuan kitab Allah yang menyangkut perbuatan manusia itulah definisi hukum syara’ menurut mereka.Mereka melihat dari sisi fungsinya adalah menegeluarkan hukum dari dalil memandangnya dari segi nash syara’yang harus dirumuskan menjadi hukum yang terinci secara detail.Karenanya ia mengaggap hukum itu sebagai kitab Allahyang mengandung aturan tingkah laku tau perbuatan.

menurut kalangan ahli fiqh ,pengertian hukum syara’ adalah “Sifat yg merupakan pengaruh atau akibat yg timbul dari titah Allah terhadap orang mukallaf itu.”Dalam bentuk ini yang disebut hukum syara adalah “wajibnya shalat” sebagai pengaruh dari titah Allah yang menyuruh shalat atau haramnya memakan harta orang secara bathil sebagai akibat dari larangan Allah memakan harta orang secra bathil.

(Syarifudin,amir,2008:334).Dalam memandang pengertian hukum syara’ ini kalangan ahli fiqh yang fungsinya menjelaskan hukum yang dirumuskan dari dalil memandang dari segi ketentuan syara’yang sudah terinci dan sudah baku menjadi suatu aturan tertentu.Karenanya ia menganggap hukum itu adalah wajib,sunah,munbah,haram dan lainnya yang melekat pada perbuatan mukallaf yang dikenai hukum itu.

Syara’ atau syariat merupakan norma hukum dasar yang ditetapkan Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad sebagai rasulnya yang wajib diikuti oleh setiap orang islam berdasarkan keyakinan dan ahlak baik dalam hubungannya dengan Allah, manusia / lingkungannya.
Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *