Ciri-ciri Masyarakat Majemuk

Pada zaman Hindia-Belanda masyarakat Indonesia digolongkan menjadi tiga golongan oleh antropolog Belanda Furnivall, yaitu golongan penjajah Belanda yang menempati tingkat pertama, kedua adalah golongan minoritas Cina, sedangkan golongan pribumi menempati tingkat yang ketiga.

Menurut Van de Berghe, ciri-ciri sebuah masyarakat majemuk adalah sebagai berikut.
1. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan, atau lebih tepat sub-kebudayaan, yang berbeda satu sama lain.
2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.
3. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.

Advertisement

4. Secara relatif seringkali terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.
5. Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.
6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Coba bandingkan dengan pemikiran masyarakat majemuk menurut Robhuska dan Shepsle yang menyatakan bahwa masyarakat majemuk dapat diidentifikasi melalui:
1. Keragaman budaya.
2. Komunitas kultural yang terorganisasi secara politik.
3. Aliansi etnik.

Sekitar 175 negara anggota PBB yang bersifat multietnik, hanya ada sekitar 12 negara yang homogen, di antaranya di Eropa yaitu Jerman, di Asia adalah negara Jepang, dan di Afrika adalah Somalia. Jadi, keragaman penduduk itu bukanlah khas Indonesia, meskipun diakui heterogenitas penduduk Indonesia ini cukup besar. Dari Sabang sampai Merauke ada ratusan suku bangsa dengan bahasanya sendiri-sendiri. Panutan agama formal dari sekian ratus suku bangsa tidak sama, ada yang beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.

Kebudayaan yang Berkembang di “Indonesia Dalam”

Kebudayaan yang berkembang di “Indonesia dalam” ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan pangan padi yang ditanam di sawah.

Dengan demikian, kebudayaan di Jawa yang menggunakan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar disertai peralatan yang relatif lebih kompleks itu merupakan perwujudan upaya manusia yang berani merubah ekosistemnya untuk kepentingan masyarakat yang bersangkutan.

Kebudayaan yang Berkembang di “Indonesia Luar”

Kebudayaan yang berkembang di “Indonesia luar”, yaitu di luar Pulau Jawa dan Bali. Kebudayaan di luar Jawa, kecuali di sekitar Danau Toba, dataran tinggi Sumatera Barat dan Sulawesi Barat Daya, berkembang atas dasar pertanian perladangan yang ditandai dengan jarangnya penduduk, pada umumnya baru beranjak dari kebiasaan hidup berburu ke arah hidup bertani.

Oleh karena itu, mereka cenderung untuk menyesuaikan diri dengan ekosistem yang ada, demi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Adapun yang dimaksud dengan kebudayaan masyarakat petani berpengairan adalah seperti yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali.

Persoalannya apakah keanekaragaman di Indonesia ini akan menimbulkan masalah yang mengancam disintegrasi bangsa? Sebuah pendapat menyebutkan bahwa kemajemukan sebuah masyarakat pada suatu saat akan menimbulkan dua hal yaitu:
a. Berkembangnya perilaku konflik di antara berbagai kelompok etnik.
b. Kecenderungan hadirnya kekuatan/kekuasaan sebagai pemersatu utama yang mengintegrasikan masyarakat.

Dengan struktur sosial yang demikian kompleks, sangat rasional sekali jika Indonesia selalu menghadapi permasalahan konflik antaretnik, kesenjangan sosial, dan sukar sekali terjadinya integrasi secara permanen. Setujukah kalian dengan hal ini? Masyarakat Indonesia yang bercorak majemuk (Plural Society) yang berisikan potensi kekuatan primordial yang otoriter dan militeristik, haruslah diubah dengan multikulturalisme. Multikulturalisme budaya tersebut berada dalam kesetaraan derajat, demokratis, dan toleransi sejati.


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *